Senin, 16 Juni 2008

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan sebagai profesi memenuhi syarat sebagai profesi keilmuan karena mempunyai body of knowledge yang jelas. Paradigma keperawatan dijadikan dasar pembentukkan model konseptual akhirnya memunculkan teori-teori keperawatan. Teori keperawatan berkembang dan diterapkan dalam praktek klinik keperawatan, penelitian, dan pendidikan. Salah satu konseptual model keperawatan yang dimaksud adalah konseptual model dari Sister Callista Roy tentang Adaptation model.

Toeri adaptasi menurut Roy merupakan salah satu teori tentang bagaimana menerapkan asuhan keperawatan yang berfokus pada kemampuan adaptasi klien. Teori ini termasuk salah satu teori yang mudah diaplikasikan sehingga banyak digunakan dalam penerapan asuhan keperawatan. Teori Roy dalam pelaksanaannya menyentuh hampir semua aspek kehidupan baik secara fisik, konsep diri, fungsi peran, dan interdependensi. (Roy, 1991). Roy menganggap klien mempunyai daya adaptasi dalam mengatasi masalahnya. Perawat dalam teori Roy dituntut untuk mengkaji kemampuan adaptasi klien dan perawat membantu klien untuk beradaptasi terhadap perubahan termasuk perubahan yang terjadi dalam tubuh klien, salah satunya perubahan dalam otak.

Otak merupakan organ yang sangat penting bagi tubuh, sebab segala aktifitas tubuh dikoordinir oleh aktifitas otak. Berbagai penyakit dapat menimbulkan gangguan fungsi otak yang dapat menyerang bagian sensorik, motorik, maupun pusat-pusat vital yang dapat mengakibatkan kematian, salah satu diantaranya adalah trauma atau cedera kepala.

Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai dengan perdarahan intertisial dalam substansi otak tanpa terputusnya kontinuitas dari otak (Hudak & Gallo, 1996). Cedera kepala meliputi trauma kulit kepala, tengkorak, dan otak. Cedera kepala juga merupakan trauma pada otak yang diakibatkan kekuatan fisik eksternal yang menyebabkan gangguan kesadaran tanpa terputusnya kontinuitas otak.

Diperkirakan 100.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat cedera kepala, dan lebih dari 700.000 mengalami cedera kepala cukup berat yang memerlukan perawatan rumah sakit (Brunner & Suddarth, 2001). Menurut Hudak (1996), bahwa dari 500.000 sampai 700.000 orang yang dirawat di rumah sakit, sekitar 21% diantaranya adalah trauma kepala berat. 30 – 50% cedera kepala berat meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Dan 20% meninggal sebagai akibat dari cedera sekunder.

Beratnya cedera kepala didifinisikan oleh Traumatic Coma Data Bank berdasarkan skor Glasgow coma scale. Cedera kepala ringan terjadi bila GCS antara 13-15 yang ditandai dengan penurunan kesadaran atau amnesia kurang dari 30 menit, tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada kontusio cerebral, hematoma. Cedera kepala sedang bila GCS antara 9-12 yang ditandai dengan penurunan kesadaran dan/atau amnesia lebih dari 30 menit tapi kurang dari 24 jam serta dapat mengalami fraktur tengkorak. Cedera kepala berat terjadi bila GCS 3-8 ditandai dengan penurunan kesadaran dan/atau amnesia lebih dari 30 menit tapi lebih dari 24 jam, adanya kontusio cerebral, laserasi, atau hematoma intracranial (Hudak & Gallo, 1996).

Salah satu pemeriksaan akan adannya bagian kepala yang mengalami cedera adalah pemeriksaan laboratorium dari Cairan Serebro Spinal (CSF) terhadap biomarker (penanda) spesifik berupa Neuro Specific Enolase (NSE). Akan tetapi pemeriksaan ini akan sangat membutuhkan waktu karena NSE akan muncul 24 jam setelah kejadian trauma, sehingga akan sangat terlambat apabila kita harus menunggu waktu 24 jam. Dengan demikian harus dipikirkan cara cepat, tepat, dan akurat dalam menilai trauma sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Disisi lain GCS merupakan pemeriksaan yang sangat luas dipergunakan akan tetapi apakah betul nilai GCS menggambarkan nilai kerusakan yang sebenarnya masih dalam penelitian. Dengan melihat kepentingan tersebut, sangat penting apabila kita mengetahui hubungan antara NSE dengan nilai GCS yang akan diteliti lebih lanjut oleh kelompok.

B. Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, masalah penelitian adalah adanya pengaruh NSE dengan nilai GCS terutama pada klien cedera kepala dan belum diketahui bagaimana hubungan antara NSE dengan nilai GCS?


C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara NSE dengan nilai GCS terutama pada pasien cedera kepala.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi nilai Biomarker Neuro Spesific Enolase (NSE) pada pasien dengan cedera kepala pada saat tiba di ruang emergency

b. Mengidentifikasi nilai Glasgow Coma Scale (GCS) pada pasien dengan cedera kepala pada saat tiba di ruang emergency

c. Menjelaskan hubungan antara Biomarker Neuro Specific dengan Glasgow Coma Scale pada pasien dengan cedera kepala

d. Menjelaskan kekuatan hubungan antara Biomarker Neuro Specific dengan Glasgow Coma Scale pada pasien dengan cedera kepala

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat berguna bagi

1. Institusi pendidikan

Sebagai masukan untuk pengembangan ilmu khususnya tentang hubungan antara NSE dengan nilai GCS terutama pada klien cedera kepala.

2. Institusi pelayanan keperawatan

Sebagai masukan untuk peningkatan mutu pelayanan.

3. Tenaga keperawatan

Meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang hubungan antara NSE dengan nilai GCS terutama pada klien cedera kepala

4. Penelitian

Sebagai acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya dan sebagai media pengembangan ilmu praktek keperawatan.


BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Kualitas kesadaran pasien merupakan parameter yang paling mendasar dan paling penting yang membutuhkan pengkajian. Tingkat keterjagaan pasien dan respon terhadap lingkungan adalah indikator yang paling sensitif untuk disfungsi sistem persarafan. Neurosurgical merupakan salah satu unit aplikasi model teori keperawatan Sister Callista Roy. Menurut teori adaptasi Sister Calista Roy bahwa manusia adalah suatu sistem adaptif dan holistik. Hal ini berarti manusia mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap input, proses, dan output sebagai satu kesatuan yang utuh. Jika input (rangsangan) tersebut meningkatkan integritas individu, maka respons tersebut disebut adaptif, tetapi jika respons tersebut sebaliknya, maka disebut maladaptif.

Sistem adaptif tersebut sebagai usaha untuk bertukar energi terhadap input dalam bentuk perubahan lingkungan eksternal dan internal baik dalam bentuk stimulus fokal, kontekstual maupun residual. Stimulus fokal adalah yang menjadi permasalahan utama klien. Stimulus kontekstual adalah yang mengkontribusi stimulus fokal, sedangkan stimulus residual merupakan stimulus yang mempengaruhi manusia sebagai sistem adaptif. Sistem adaptif Roy memiliki dua mekanisme utama untuk beradaptasi dalam menghadapi masalah yaitu sistem regulator dan cognator. (Roy, 1991).

Regulator merupakan kemampuan menggunakan sistem persyarafan, endokrin, dan respon kimiawi. Refleks otonom adalah respon neural dan brain sistem dan spinal cord yang diteruskan sebagai perilaku output dari sistem regulator. Sedangkan cognator adalah mekanisme diri dengan menggunakan kemampuan mempersepsikan informasi, belajar, dan menilai stimulus. Stimulus untuk subsistem cognator dapat eksternal maupun internal. Perilaku output dari regulator subsistem dapat menjadi stimulus umpan balik untuk subsistem cognator. Kedua mekanisme ini dimanifestasikan dalam 4 bentuk adaptif yaitu perubahan fisiologis, fungsi peran, konsep diri, dan saling ketergantungan. Output yang dihasilkan manusia dimanifestasikan dalam bentuk prilaku eksternal dan internal untuk mengembangkan diri sebagai respons adaptif dan


penurunan fungsi optimal sebagai respons non adaptif. Salah satu keadaaan terjadinya proses maladaptif adalah terjadinya cedera kepala.

Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai dengan perdarahan intertisial dalam substansi otak tanpa terputusnya kontinuitas dari otak (Hudak & Gallo, 1996). Cedera kepala juga merupakan trauma pada otak yang diakibatkan kekuatan fisik eksternal yang menyebabkan gangguan kesadaran tanpa terputusnya kontinuitas otak.

Cedera otak / kepala yang disebabkan trauma, iskemik dan atau kimiawi menjadi fokus kesehatan internasional. Salah satu penegakkan diagnosa cedera kepala melalui pemakaian biomarker. Pemakaian biomarker dalam menegakan diagnosa, prognosis, dan penelitian klinis pada trauma kepala semakin banyak dipergunakan. Penentuan diagnosis yang akurat sangat membantu dalam menentukan manajemen dan dalam mengambil keputusan pada saat kapan pasien pulang. Dengan penggunaan biomarker, penggunaan pemeriksaan yang relatif mahal seperti computer tomography (CT) scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan dapat dikurangi.

Pemeriksaan biomarker sangat penting dalam menentukan tindakan yang harus diambil terutama pada pasien dengan cedera kepala ringan, karena 80% dari pasien dengan cedera kepala mengalami cedera kepala ringan. Pemeriksaan biomarker yang sangat murah memungkinkan manajemen kasus akan cepat dibandingkan dengan menggunakan pengkajian neurologik konvensional. Salah satu biomarker yang sekarang sedang banyak diteliti adalah Neuron Specific Enolase (NSE).

Neuron Specific Enolase merupakan salah satu enzym pada manusia yang ada / keluar pada saat terjadinya trauma otak. NSE merupakan bentuk dari glycolytic, enzym, enolase yang sangat spesifik dari neuron, sel neuroendocrine dan olygodendrosit. Enzyme enolase terlibat dalam proses glycolisis. Glikolisis merupakan perusakan glukosa, dimana terjadi pemecahan glukosa menjadi asam laktat, tetapi glikolisis ini juga sangat penting dalam persiapan katabolisme glukosa anaerob. (..., 2007, ¶ 2, http://www.strokecenter.org diperoleh tanggal 24 April 2007).

Terdapat variasi struktur enolase yang membedakan satu sistem dengan sistem lain. Variasi ini menunjukan hubungan dengan kondisi lingkungan yang ada terkait dengan sistem. Sebagai contoh NSE3 ditemukan dalam jaringan syaraf, struktur enolase pada neuron lebih stabil dalam konsentrasi klorida tinggi dibanding dengan enolase pada sistem yang lain. Struktur ini sangat penting mengingat peranan jaringan syaraf untuk depolarisasi sehingga membutuhkan klorida konsentrasi tinggi. NSE ditemukan dalam serum, 24 jam setelah kejadian trauma.

Sebelumnya telah dilakukan penelitian tentang hubungan GCS dan NSE pada anak dengan cedera kepala. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara nilia GCS dengan konsentrasi NSE pada pasien anak usia 4 tahun yang mengalami cedera kepala. Jannet B, Bond M. 2007, ¶ 1. http://www.strokecenter.com diperoleh tanggal 24 April 2007).

Pasien yang mengalami cedera kepala cenderung untuk mengalami lesi intrakranial yang akan menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial. Tekanan intrakaranial adalah tekanan yang dikeluarkan oleh kombinasi volume dari tiga komponen intrakaranial yaitu jaringan otak, cairan serebrospinal (CSS) dan darah. Pengukuran tekanan intrakranial biasanya memberikan indikasi adanya perubahan pada dinamika TIK sebelum perubahan yang demikian terbukti secara klinis, sehingga memudahkan untuk melakukan tindakan penurunan peningkatan tekanan intra kranial (PTIK).

Berdasarkan hipotesa Monro-Kelli bahwa volume intrakranial sama dengan volume otak (80 – 85% dari isi intrakranial) ditambah dengan volume darah serebral (3-10%) dan cairan serebro spinal (CSS) 8 – 12%. Cairan cerebrospinal merupakan cairan yang bersih dan tidak berwarna dengan berat jenis 1,1007, diproduksi didalam ventrikel dan bersirkulasi disekitar otak dan medula spinalis. Melalui sistem ventrikular. CSS diproduksi di dalam fleksus koroid pada ventrikel lateral ke-3 dan ke-4. Sistem ventrikular dan subaraknoid mengandung kira-kira 150 ml air; 15-25 ml dari CSS terdapat di masing-masing ventrikel lateral. Secara organik dan non organik kandungan CSS sama dengan plasma, tetapi mempunyai perbedaan konsentrasi. CSS mengandung protein, glukosa, dan klorida, juga mengandung imunoglobulin. Secara normal CSS mempunyai sedikit sel-sel darah putih dan tidak mengandung sel darah merah. CSS kembali ke otak dan kemudian bersirkulasi mengitari otak, kemudian diabsorbsi melalui vili arachnoid yang bercampur dengan darah vena di dalam sinus sagital superior.

Fungsi CSS adalah sebagai penahan getaran, menjaga jaringan SSP yang sangat halus dari benturan terhadap struktur tulang yang mengelilinginya dan dari cedera mekanik. Juga berfungsi dalam pertukaran nutrien antara plasma dan kompartemen selular. Cairan Serebrospinal merupakan filtrat plasma yang dikeluarkan oleh kapiler dari keempat ventrikel otak. Peningkatan cairan serebrospinal dapat menimbulkan penurunan tingkat kesadaran.

Salah satu cara penilaian kualitas kesadaran adalah dengan menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS memberikan gambaran tentang status neurology pasien yan mengalami cedera kepala. Evaluasi ini digunakan untuk mengkaji motorik, verbal dan respons menbuka mata pasien. Masing-masing respons diberikan sebuah angka (tinggi untuk normal dan rendah untuk gangguan), dan penjumlahan dari gambaran ini memberikan indikasi beratnya keadaan kondisi pasien. Nilai terendah adalah 3 (respons paling sedikit), nilai tertinggi adalah 15 (paling berespons). Nilai 7 atau nilai kurang dari 7 umumnya dikatakan sebagai koma. Berikut bagan skala pengukuran GCS.

Bagan 1 : Skala pengukuran GCS

Membuka mata

- Spontan

- Dengan perintah

- Dengan nyeri

- Tidak berespons

Nilai

4

3

2

1

  • Respons motorik
  • Dengan perintah
  • Melokalisasi nyeri
  • Menarik area yang nyeri
  • Fleksi abnormal
  • Ekstensi
  • Tidak berespon

Nilai

6

5

4

3

2

1

Respons verbal

- Berorientasi

- Bicara membingungkan

- Kata-kata tidak tepat

- Suara tidak dapat dimengerti

- Tidak ada respons

Nilai

5

4

3

2

1

Sumber : Hudak & Gallo, 1996.

Sistem penilaian tersebut dirancang sebagai pedoman untuk mengevaluasi dengan cepat terhadap pasien yang sakit kritis atau cedera sangat berat yang status kesehatannya dapat berubah dengan cepat. Sistem penilaian ini tidak berguna sebagai pedoman evaluasi pasien yang mengalami koma yang lama atau selama pemulihan yang lama karena cedera otak yang berat.

Mekanisme cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat-ringannya konsekuensi patofisiologi dari trauma/cedera kepala. Cedera percepatan (aselerasi) terjadi ketika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan benda tumpul. Cedera perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan mobil atau tanah. Cedera otak yang menyebar dikaitkan dengan kerusakan yang menyebar secara luas dan menyebabkan koma karena penyebarannya sampai pada hemisfer serebral, batang otak, atau kedua-duanya.

C. Definisi Operasional

NO

Variabel

Definisi Konseptual

Definisi Operasional

Cara

Ukur

Hasil Ukur

Skala

Biomarker Cerebro Spinal Fluid: Neuro Specific Enolase (NSE)

NSE merupakan bentuk dari glycolytic, enzym, enolase dan sangat spesifik dari neuron, sel neuroendocrine dan olygodendrosit.

Banyaknya kadar Neuro Specific Enolase (NSE) per milimiter cairan serebro spinal (CSF) pada pasien dengan cedera kepala

Lab CSF metode ELISA

Hasil pemeriksaan laboraorium dengan satuan ng/ml.

≤ 200 = Normal

> 200 = Tinggi

Rasio

Glasgow Coma Scale (GCS)

Pemeriksaan tingkat kesadaran pasien dengan menggunakan respon pembukaan mata, verbal dan motorik

Pemeriksaan tingkat kesadaran pasien dengan menggunakan respon membuka mata, verbal dan motorik pada pasien dengan cedera kepala.

Observasi

Hasil pemeriksaan GCS

≤8 CK Berat

9–12 CK Sedang

13 – 15 CK Berat

Interval


BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain korelasi yaitu menjelaskan sejauhmana hubungan antara Neuro Specific Enolase dengan Glasgow Coma Scale

B. Populasi dan Sampel

Populasi yang diambil adalah pasien dewasa dengan cedera kepala.

Pengambilan sampel dengan menggunakan metode Accidental Sampling

Kriteria Inklusi:

1. bersedia menjadi responden yang dibuktikan dengan tanda tangan keluarga atau pasien

2. Penyebab cedera kepala karena trauma tumpul

3. Lama waktu pra rumah sakit maksimal 1 jam

4. Usia lebih dari 20 sampai dengan 55 tahun

C. Tempat Penelitian

Ruang Emergency RSCM Jakarta

D. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan dari tanggal 20 Mei sampai dengan 20 Agustus 2007

E. Etika Penelitian

Etika penelitian disusun dengan tujuan melindungi hak-hak responden, menjamin kerahasiaan respoden dan kemungkinan terjadinya ancaman terhadap responden.


F. Alat Pengumpul Data

Instrumen penelitian menggunakan pedoman pemeriksaan GCS dengan menggunakan checklist dan pengambilan untuk pemeriksaan NSE dilakukan dengan lumbal punctie selanjutnya dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan mengunakan tehnik ELISA

G. Prosedur Pengumpulan Data

1. mengajukan surat permohonan izi penelitian ke rumah sakit

2. menyerahkan izin penelitian ke ruang emergency

3. memberikan penjelasan kepada calon responden atau keluarga dan memintanya untuk menadatangani lembar persetujuan (informed consent)

4. peneliti melakukan observasi GCS pada setiap responden

5. mengambil data sekunder hasil pemeriksaan Neuro Spesific Enolase

6. peneliti menghitung kembali lembaran instrumen kemudian diseleksi untuk dilakukan pengolahan data

H. Rencana Analisis Data

Setelah data terkumpul maka dilakukan pengolahan data dengan penghitungan statistik yang selanjutnya akan dilakukan analisa data. Analisa mencakup ditribusi frekuensi dan presentase dari hasil GCS dan NSE. Selanjutnya untuk mengetahui hubungan GCS dan NSE dilakukan uji korelasi dengan megunakan Pearson Product Moment. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut :

n (Σ xy) - (ΣxΣy)

r =

(nΣx2 – (Σx)2 (Σy2 – (Σy)2)

Keterangan:

r = Korelasi

n = Jumlah responden

x = Skor total variabel GCS

y = Skor total variabel NSE

Nilai r berada dalam 0 ≤ r ≤ 1. Menurut Colton, kekuatan hubungan antara dua variabel secara kualitatif dapat dibagi dalam 4 area yaitu:

0,00 – 0,25 = Tidak ada hubungan/hubungan lemah

0,26 – 0,50 = Hubungan sedang

0,51 – 0,75 = Hubungan kuat

0,76 – 1,00 = Hubungan sangat kuat/sempurnasss


INSTRUMEN PENELITIAN

Kode:

Tanggal Pengambilan data :

Jam kejadian cedera kepala :

Jam tiba di Emergency RS :

Nilai Neuro Specific Enolase : ng/ml

Isilah dengan meberikan tanda check (√) sesuai dengan respon pasien

Membuka mata

Spontan

Dengan perintah

Dengan nyeri

Tidak berespons

Respons motorik

Dengan perintah

Melokalisasi nyeri

Menarik area yang nyeri

Fleksi abnormal

Ekstensi

Tidak berespon

Respons verbal

Berorientasi

Bicara membingungkan

Kata-kata tidak tepat

Suara tidak dapat dimengerti

Tidak ada respons


REFERENCES

Hudak & Gallo. (1996). Keperawatan kritis; pendekatan holistik. Edisi 6. Volume 2. Jakarta: EGC.

Lewis, Heitkemper, dan Dirksen. (2000). Medical surgical nursing ; assessment

and management of clinical problems. 4 th Ed. St. Louis Missouri: Mosby

Inc

Roy, S.C. (1991). The roy adaptation model; the definitive statement. New Jersey: Applenton-century Crofts.

Tomey A.M & Aligood M.R. (1998). Nursing theorist and their work. 3 th Ed. Toronto: The C.V. Mosby Company.

….. Microwell Elisa: Neuron-specihc enolase (NSE) enzym eimmunoassay test kit. Diperoleh tanggal 24 April 2007 dari http://www.strokecenter.org


Jannet B, Bond M. Assessment of outcome after severe brain damage. Diperoleh tanggal 24 April 2007 dari http://www.strokecenter.com