Senin, 16 Juni 2008

Kanker 2


Penamaan kanker
Dinamakan bedasarkan jaringan asalnya
  • Sarcoma berasal dari jaringan mesodermal yang terdiri dari jaringan ikat, tulang, kartilage, lemak, otot dan pembulh darah.
  • Osteosarcoma menunjukan kanker tulang
  • Carcinoma menunjukan tumor yang berasal dari jaringan epitel seperti membran mukosa dan kelenjar (termasuk didalamnya kanker payudara, ovarium, dan paru)
  • Kanker sumsum tulang disebut dengan myeloma.
  • Kanker darah atau hemopoietik dikenal sebagai balstoma dan tumor dapat meliputi kanker lympe, eritrosit, dan sel mieloid
  • Leukemias menjelaskan tentang kanker yang berasal dari sel darah putih yang dapat di golongkan menjadi myeloid, lymphatik atau monositik
Metastase
  • Kemampuan sel tumor untuk pindah ke tempat lain dan membentuk tumor sekunder
  • Banyak pasien yang meninggal karena metastase kanker ke organ vital daripada karena tumor primernya.

Tumor metastase melalui:
  • Pembuluh limphe
  • Pembuluh darah
  • Jaringan menempel
  • Rongga dalam tubuh dari organ ke organ misalnya dari lambung ke ovarium
Nyeri
  • Disebabkan kanker mempengaruhi ujung syaraf
TREATMENTS
Pengobatan utama:
  • Pembedahan
  • Radiotherapy
  • Chemotherapy
SURGERY
  • Jika tumor masih kecil atau ada alasan lain yang memungkinkan operasi.
  • Biasanya disertai dengan chemotherapy atau radiotherapy.
RADIOTHERAPY
  • Menggunakan X-ray atau radiopharmaceuticals (radionuclides)
  • Pada X-ray therapy, radiasi diberikan secara lokal untuk menghindari kerusakan jaringan sehat lainnya.

CHEMOTHERAPY
  • Chemotherapy digunakan untuk menghancurkan sel secara selektif
  • Nitrogen mustards obat yang pertama digunakan.

CHEMOTHERAPY

Keuntungan dapat diberikan secara intravena dan dapat menyebar sehingga sel kanker jadi hancur

Kerugian cytotoxic seperti:
  • Depresi sumsum tulang
  • Lesi saluran pencernaan
  • Kehilangan rambut
  • Mual
  • Resistensi
  • Siklus Sel
  • Siklus Sel
PERAN PERAWAT
  • Memberi dukungan klien  prosedur diagnostik
  • Mengenali kebutuhan psiko-sosial dan spiritual
  • Memenuhi kebutuhan cairan & nutrisi klien
  • Memberi bantuan bagi klien yang mendapat pengobatan anti kanker / terhadap keganasan
  • Membantu klien fase penyembuhan / rehabilitasi
  • Membantu klien untuk tindak lanjut pengobatan
Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Infeksi
  • Kaji resiko yang dapat terjadi akibat depresi sistem imun:
  • Jenis, dosis, cara pemberian kemoterapi
  • Stressor yang sedang dialami klien dan kemampuan koping yang dimiliki
  • Kebiasaan kebersihan diri
  • Pola tidur
  • Pola makan
  • Pola eliminasi
  • Riwayat & pemeriksaan fisik
  • Tanda-tanda infeksi: demam, adanya nyeri menelan, nyeri saat eliminasi, adanya exudat
  • Tanda perdarahan: pusing, adanya perdarahan
  • Tanda anemia: pucat, lemah, sesak nafas saat aktifitas
  • Fungsi pernafasan & suara nafas
  • Laboratorium: DPL

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Infeksi (lanjutan)
  • Lakukan tindakan khusus jika angka neutrofil <500/mm3
  • Lindungi klien dari terpaparnya bakteri
  • Tempatkan klien di ruang isolasi
  • Pasang papan pengumuman di pintu masuk ruang isolasi klien yang menginformasikan: pengunjung harus cuci tangan sebelum masuk, pengunjung yang FLU dilarang masuk dan DILARANG membawa buah, bunga atau sayuran segar ke ruangan klien
  • Pasang papan pengumuman yang menginformasikan TIDAK BOLEH menginjeksi per-IM dan mengukur suhu per-rektum
  • Rencanakan program kebersihan mulut, mandi sehari sekali, dan kebersihan area perineum dalam kegiatan perawatan klien
  • Kaji tempat penusukan infus, ganti balutan dengan teknik aseptik 2 hari sekali atau apabila ada tanda-tanda plebitis
  • Hindari tindakan invasif (jika memungkinkan)
  • Cuci tangan sebelum merawat klien, tidak menempatkan petugas kesehatan yang FLU (atau infeksi lain) atau yang merawat klien yang terinfeksi di ruang isolasi

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Infeksi (lanjutan)
  • Lakukan tindakan khusus jika angka neutrofil <500/mm3
  • Kaji terus menerus adanya infeksi pada klien
  • Monitor tanda vital terutama pada peningkatan temperatur
  • Monitor angka lab neutrofil
  • Kaji tanda infeksi seperti kemerahan, adanya peradangan di area tertentu (mukosa mulut, tempat bekas penusukan suntik/infus, dll)
  • Monitor perubahan warna urin, sputum & feses
  • Diskusikan tanda & gejala infeksi yang terjadi ke dokter yang bertanggung jawab, kolaborasi perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan kultur, pemberian antipiretik & antibiotik

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Cedera: Perdarahan
  • Lakukan tindakan khusus jika trombosit <>
  • Cegah klien dari trauma dan resiko perdarahan
  • Pasang tanda DILARANG injeksi per IM dan pemberian obat aspirin
  • Minimalkan penusukan vena atau tekan bekas penusukan minimal 5 menit
  • Ajarkan cara sikat gigi dengan sikat gigi lembut, hindari penggunaan dental floss
  • Pasang pembatas tempat tidur
  • Cegah konstipasi dengan pemberian cairan minimal 3 L/hari
  • Monitor terjadinya perdarahan
  • Kaji tanda infeksi dini: petekie, ekimosis, epistaksis, darah di feses, urin, dan muntahan
  • Perubahan tekanan darah ortostatik >10 mmHg atau nadi >100/mnt
  • Monitor hematokrit & trombosit
  • Lapor dokter jika ada tanda perdarahan

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko gangguan Perfusi Jaringan
  • Kaji tanda dan gejala anemia
  • Hematokrit: 31-37% (anemia ringan), 25-30% (anemia sedang), <25%>
  • Tanda anemia ringan: pucat, lemah, sesak ringan, palpitasi, berkeringat dingin; anemia sedang: meningkat tingkat keparahan tanda dari anemia ringan; tanda anemia berat: sakit kepala, pusing, nyeri dada, sesak saat istirahat, dan takikardi)
  • Anjurkan klien untuk merubah posisi secara bertahap, dari tidur ke duduk, dari duduk ke berdiri. Anjurkan latihan nafas dalam selama perubahan posisi.

Kaji respon pemberian transfusi, menjadi lebih baik atau tetap.
  • Kaji pula perubahan hematokrit setelah transfusi
  • Kaji adanya ketidak mampuan melakukan aktifitas, dan kebutuhan klien akan Oksigen
  • Kolaborasikan ke gizi & anjurkan klien untuk mendapatkan diet tinggi Fe (zat besi)
  • Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Ketidakmampuan melakukan aktifitas akibat anemia
  • Anjurkan klien untuk meningkatkan frekuensi & kualitas istirahat & buatkan daftar aktifitas-istirahat
  • Anjurkan klien untuk mengkonsumsi diet tinggi zat besi seperti hati, telur, daging, wortel dan kismis


Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Nutrisi
  • Kaji makanan kesukaan
  • Anjurkan klien makan tinggi kalori, protein, dan zat besi
  • Kaji adanya program khusus dari bagian Gizi, dan jelaskan program tersebut kepada seluruh staf yang merawat klien
  • Jelaskan cara makan yang efektif bagi klien yang di kemoterapi & berikan leaflet khusus klien yang kemoterapi
  • Jika klien tidak mampu makan, kolaborasikan untuk diet per NGT atau parenteral
  • Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Nutrisi
  • Berikan analgesic sebelum makan K/P
  • Ukur berat badan tiap hari
  • Berikan antimuntah sebelum pemberian kemoterapi & evaluasi pemberian
  • Berikan kemoterapi sore hari jika mungkin
  • Berikan permen saat kemoterapi
  • Beri makan porsi kecil tapi sering

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Keseimbangan Cairan
  • Anjurkan klien untuk minum 3L/hari
  • Monitor intake-output tiap 4 jam
  • Kaji frekuensi, konsistensi & volume diare/muntah
  • Kaji turgor kulit, kelembaban mukosa
  • Beri obat antidiare/antimuntah sesuai program
  • Rawat area kulit perineum dengan salep betametasone atau Zinc
  • Beri cairan rehidrasi (cairan fisiologis) per-infus sesuai program
  • Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Integritas Mukosa Mulut
  • Kaji & catat kondisi mukosa mulut (lidah, bibir, dinding & langit-langit mulut) & kaji adanya stomatitis tiap shift. Ajarkan pada klien cara mendeteksi dini adanya stomatitis
  • Kaji kenyamanan & kemampuan untuk makan & minum
  • Kaji status nutrisi klien
  • Anjurkan & ajarkan klien membersihkan mulut (kumur-kumur) tiap 2 jam
  • Gunakan cairan fisiologis, atau campuran cairan fisiologis dan BicNat (1 sdt dicampur 800 cc air) tiap 4 jam atau,
  • Gunakan larutan H2O2 dg perbandingan 1 : 4, atau
  • Obat kumur Listerine®
Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Integritas Mukosa Mulut
  • Anjurkan & ajarkan sikat gigi dan menggunakan dental floss, & tidak dilakukan jika leukosit <1500/mm3>
  • Anjurkan & jelaskan klien untuk melepas gigi palsu saat kumur-kumur & saat sedang iritasi mukosa
  • Anjurkan & ajarkan klien untuk melembabkan mulut dengan cara banyak minum dan menggunakan pelembab bibir
  • Hindarkan makanan yang merangsang (pedas, panas & asam) & jelaskan pada klien

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Rasa Nyaman akibat Stomatitis
  • Berikan (kolaborasi) obat kumur yang mengandung xylocain 2% 10-15 cc per kumur dilakukan tiap 3 jam
  • Kolaborasikan perlunya pemberian analgesic sedang-kuat per parenteral (mis. Morphin)
  • Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan komunikasi verbal akibat nyeri di mulut
  • Kaji kemampuan komunikasi klien
  • Kaji adanya sekret yang kental yang sulit untuk dikeluarkan, anjurkan minum hangat
  • Sediakan alat komunikasi yang lain seperti papan tulis atau buku jika klien tidak dapat berkomunikasi verbal
  • Responsif terhadap bel panggilan dari klien
Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Integritas Kulit Perineum akibat diare
  • Kaji area kulit perineum
  • Anjurkan untuk membersihkan menggunakan sabun lembut saat membilas sesudah bab
  • Oleskan anastetik topikal K/P
  • Gunakan pampers untuk menjaga keringnya area perineum
Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Terjadi Nefrotoksik akibat Kemoterapi
  • Hidrasi dengan cairan fisiologis 100-150cc/jam atau sampai cairan urin bening
  • Diuresis dengan furosemid sesuai dg program
  • Ukur pH urin (pH > 7)
  • Cegah dehidrasi dan muntah yang masif
  • Hidrasi pasca kemoterapi minimal 3L/hari
  • Monitor hasil lab ureum, creatinin
Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Citra Diri akibat Alopesia
  • Kaji resiko terjadi alopesia, obat kemoterapi yang digunakan
  • Jelaskan penyebab dari alopesia dan dampak yang terjadi, yaitu alopesia terjadi sejenak, dapat tumbuh rambut yang baru
  • Anjurkan klien menceritakan perasaannya
  • Anjurakan klien mencukur rambutnya yang panjang
  • Anjurkan klien mencoba memakai kerudung, wig, topi atau selendang
  • Ikutkan klien pada kegiatan pasien alopesia di RS
  • Ajarkan cara perawatan kulit kepala dengan menggunakan sampoo baby, “sun cream”, dll
  • Jika terjadi kerontokan alis & bulu mata, gunakan kacamata hitam & topi jika bepergian
Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Disfungsi Seksual akibat Kemoterapi
  • Bina rasa saling percaya
  • Kaji pengetahuan klien tentang efek penyakit dan pengobatannya pa da fungsi seksual
  • Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk mendiskusikan masalah klien
  • Mendiskusikan strategi menghadapi disfungsi seksual
  • Alternatif pengekspresian seksual
  • Alternatif posisi yang meminimalkan nyeri
  • Melakukan aktifitas seksual saat kondisi tubuh fit
  • Membantu mengetahui perasaan seksual dirinya dan pasangannya
  • Penjelasan dampak kemoterapi pada fungsi seksual
  • Mendiskusikan alternatif pola dalam keluarga
  • Mengajak orangtua klien untuk merawat anaknya
  • Menganjurkan klien yang sulit punya anak untuk adopsi

Terapi Komplementer/Herbal dalam Intervensi Keperawatan Klien Kanker,

Sebuah Tantangan
  • Kesempatan dalam mengembangkan kewenangan keperawatan
  • Digunakan pada stadium dini atau alternatif terapi medis
  • Umumnya belum melalui penelitian klinis pada pasien
  • Selalu berkolaborasi dengan dokter jika terjadi sesuatu kondisi diluar kemampuan perawat
  • Jika menjalani pengobatan dengan kemoterapi, ramuan diminum setelah dua minggu sejak kemoterapi dilakukan.
  • Bila dokter memberi obat, ramuan sebaiknya diminum dua jam sebelum atau setelah mengonsumsi obat dari dokter.
  • Jenis terapi komplementer/herbal sangat banyak, namun diuraikan hanya sebagian

Terapi Bawang Sabrang
Bawang sabrang (Eleutherine mericana Merr) kandungan: polifenol dan tanin
Cara:
  • Anjurkan klien memakan umbi bawang sabrang tiga kali sehari, masing-masing dua umbi dengan cara dikunyah
  • Terapi tambahan: rebusan keladi tikus, kencur, mahkota dewa, pegagan, temu mangga, temuwalak, kumis kucing, sambiloto
Sumber: Sidik Rahardjo (Republika, 2005)

Terapi Sambiloto
Nama: sambiloto adalah Andrographidis herba (herba sambiloto)
Kandungan kimianya andrografin, androfolit (zat pahit), dan panikulin
Khasiat: antibiotik, sangat membantu dalam menyembuhkan luka akibat kanker dan antitumor serta menghancurkan inti sel kanker
Sambiloto bisa dikeringkan dan disimpan. Pengeringan dan penyimpanan sebaiknya dilakukan sesudah tumbuhan itu berbunga.
Bahan: 30 gram daun sambiloto kering 30 gram meniran kering 30 gram akar alang alang kering
Cara Membuat:
  • Semuanya dicuci bersih, lalu dipotong kecil-kecil.
  • Rebus dalam 2,5 gelas air dalam keadaan ditutup hingga mendidih.
  • Setelah itu baru diangkat, tetapi tutup jangan dibuka.
  • Setelah dingin, disaring.
  • Diminum 2 kali sehari 1 gelas hingga gejala penyakit yang dirasakan hilang.

Terapi Temulawak
  • Rimpang temulawak mengandung curcumin dan monodesmetoksi curcumin.
  • Kandungan curcumin dalam rimpang temulawak berkhasiat sebagai antioksidan, antinflamasi, dan antitumor.
  • Temulawak juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri dan sakit karena kanker.
  • Ekstrak temulawak sangat dianjurkan untuk dikonsumsi guna mencegah penyakit hati, termasuk hepatitis B yang menjadi salah satu faktor risiko timbulnya kanker hati.
Terapi Temulawak
  • Bahan: 10 gram rimpang temulawak 10 gram kunyit 10 gram daun sambiloto kering 10 gram rimpang temu mangga 10 gram ciplukan kering (seluruh bagian tanaman) 10 gram meniran (seluruh bagian tanaman)
Cara Membuat:
  • Setelah dicuci bersih, rimpang temulawak, kunyit, temu putih, dan temu mangga diparut halus.
  • Parutan tersebut dicampur dengan ciplukan, meniran, dan daun sambiloto, lalu direbus dengan 2 gelas air putih sampai tersisa sekitar 1,5 gelas.
  • Setelah disaring, ramuan diminum 3 kali sehari masing-masing 1/2 gelas. Untuk mengurangi rasa pahit, tambahkan 1 sendok makan madu.
Terapi Lidah Buaya
  • Tumbuhan lidah buaya (Aloe vera Linn atau Aloe barbadensis)
  • Lidah buaya bersifat dingin dan berkhasiat sebagai penurun kadar gula, pengontrol tekanan darah, antibiotik, dan analgesik (pereda sakit). Zat aloin dalam lidah buaya berfungsi sebagai pencahar.
  • Pemakaian lidah buaya lebih ditekankan sebagai immunotherapy dengan menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan kanker dan ditunjang oleh khasiatnya sebagai antinflamasi (antiradang).
  • Fungsi anti radang ini berkaitan dengan senyawa polisakarida yang terkandung dalam gel daunnya. Sementara itu, daun lidah buaya memiliki khasiat sebagai antikanker dan antitumor.
Terapi Lidah Buaya
Ramuan lidah buaya Bahan: Satu buah pelepah lidah buaya yang sudah tua berukuran sedang, dibuang durinya, tapi jangan buang kulitnya.
Cara Membuat:
  • Potong-potong dan rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas.
  • Air rebusan lidah buaya diminum 3 kali sehari.
  • Setiap kali hendak minum, Anda harus membuat rebusan baru


Kanker
Hendi

Konsep Dasar
  • Sel mengalami tumbuh dan hilang dalam keseimbangan.
  • Sel yang terbentuk sama dengan sel yang menghilang
  • Kanker tumbuh karena mutasi sel yang berlebihan

Etiologi
  • 89% kanker disebabkan oleh kebiasaan hidup
  • Merokok
  • Konsumsi Alkohol
  • Diet
  • Karsinogenik Lingkungan

Merokok
  • 30% merupakan penyebab kematian dari semua kanker.
  • Resiko 10 – 20 x kanker pada orang meroko dibanding yang tidak merokok.
  • 90% kematian kanker paru disebabkan oleh merokok
  • Merokok juga menyebabkan kanker saluran napas bagian atas, saluran genitourinaria, dan pankreas.
  • Perokok pasif memiliki resiko 2x
Alcohol
  • Walaupun bukan karsinogen tapi dapat menyebabkan kanker pernapasan bagian atas dan esofagus.
  • Kanker disebabkan kerena peningkatan permeabilitas mukosa
Ionizing radiation
  • Merupakan penyebab leukemia pada populasi yang terkena radiasi bom atom
  • Resiko meningkat untuk kanker payudara pada wanita menopouse yang pernah terpapar radiasi meningkat.
Environmental exposure
  • Asbes menyebabkan kanker paru, pleura dan perut
  • Ultra violet menyebabkan kaker kulit
  • Elektromagnetik belum jelas hubungannnya dengan keganasan. Leukemia terjadi pada anak yang tinggal di bawah tegangan tinggi

Diet
Diet yang mengurangi resiko terjadinya kanker.
  • Tinggi serat
  • Sayuran, buah-buahan
  • Kacang
Diet
  • Obesitas berhubungan dengan peningkatan resiko kaker payudara pada wanita usia lebih dari 40 tahun Body habitus and exercise.
  • Resiko kanker payudara meningkat pada wanita kurus
  • Olahraga teratur mengurangi resiko kanker kolon.
Siklus sel

Fase G0: fase istirahat
Fase G1 (gap 1 atau interphase), sintesis protein dan RNA
Fase S, sintesis DNA
Fase G2 sintesis DNA, protein dan RNA
Fase M, mitosis setelah mitosist terbentuk sel baru dan mulai lagi sikles sel dari G0 atau G1

Leukemia

Jenis
  • Acute lymphoblastic leukemia (ALL), 75 – 80%
  • Acute myeloid leukemia (AML), dikenal juga sebagai acute nonlymphoblastic leukemia (ANLL) 20 – 25 % leukemia pad anak
  • Tipe umum lain Chronic myeloid (atau myelocytic) leukemia (CML), <>

Etiologi ALL
  • Keturunan
  • Lingkungan
Tanda dan Gejala ALL
Gejala karena infiltrasi ke sumsum tulang dan organ lain.
  • Cengeng
  • Berkeringat malem
  • Lemah
  • Nyeri tulang
  • Hilang napsu makan
Dari pemeriksaan fisik
  • Pucat dan lethargy
  • Nyeri dalam tulang panjang
  • Petechiae
  • Perdarahan (hidung)
  • Pembesaran hati dan limfa
  • Pembesaran lymphe node dan demam
  • 10% menyebar ke CNS
Tanda dan gejala
  • Sakit kepala
  • Prestasi disekolah jelek
  • Lemah
  • Muntah
  • Pandangan kabur
  • Kejang
  • Tidak mampu mempertahankan keseimbangan

Protokol ALL
  • Induction
  • Intensification/consolidation
  • CNS-directed therapy
  • Maintenance/continuing treatment

Induction
Obat yang dipergunakan adalah
  • Vincristine
  • steroids
  • L-asparaginase atau anthracycline – diberikan dalam waktu 4 minggu
  • Diberikan pada 95% anak
  • CNS prophylaxis/treatment juga diberikan methotrexate.
  • Dahulu pernah diberikan daunorubicin tetapi diketahui menyebabkan kardiotoksisk
Intensification/Consolidation
  • Merupakan treatmen yang diberikan setelah induksi dan sekitar 4 bulan kemudian tergantung kebijakan.

CNS-directed Therapy
  • Dilakukan kerena asumsi bahwa kanker daat menembus barier otak
  • Jika tidak diberikan 50% mengalami gangguan CNS
  • Diberikan dengan lumbal punktie dengan obat
  • methotrexate.
  • Tambahan methotrexate dosis tinggi diberikan intravena dengan interval 4 minggu
  • Maintenance/Continuing Treatment
  • Methotrexate Oral diberikan tiap minggu dan 6-mercaptopurine oral diberikan tiap hari
  • Obat ini telah menunjukan hasil yang baik

Follow-up
  • Jumlah darah
  • Efek samping
  • Efek samping jangka panjang
  • Chronic cardiotoxicity
  • Gangguan pertumbuhan (pendek dan gemuk)
  • Infertil
  • Osteonekrosis
  • Penurunan kepadatan tulang
  • Penurunan tingkat intelegensi

Senin, 09 Juni 2008

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Meningitis

Definisi

Meningitis merupakan inflamasi pia mater dan arachnoid atau meningen, yang melapisi otak. Meningitis menunjukan inflamasi yang menyebabkan infeksi. Terdapat tiga keadaan:

  1. meningitis saja
  2. septikemi saja
  3. meningococcal septikemi

Tanda meningitis sebagai berikut:

  1. demam
  2. sakit kepala
  3. kaku leher
  4. photophobia dan muntah
  5. bingung (mungkin)

Pasien septikemi biasanya tidak menunjukan adanya kegagalan neurologik, tapi pasien menunjukan adanya:

  1. perubahan sirkulasi
  2. penurunan perfusi perifer
  3. tachycardia
  4. tachypnoe
  5. hypotensi
  6. ptechie sebagai indikasi pasien mengalami bakteriemi oleh meningokoki

Pengkajian

Pengkajian selalu menggunakan pendekatan ABCDE.

Airway

  1. pastikan kepatenan jalan napas
  2. siapkan alat bantu untuk memperlancar jalan napas jika perlu
  1. jika terjadi penurunan dalam fungsi pernapasan segera hubungi ahli anestesi dan bawa ke ICU

Breathing

  1. Kaji respiratory rate – <8 atau >30 merupakan tanda yang signifikan.
  2. Kaji saturasi oksigen
  3. Lakukan pemeriksaan gas darah
  4. Berikan oksigen 100% melalui non re-breath mask
  5. Auskultasi dada
  6. Lakukan pemeriksaan foto thorak

Circulation

  1. kaji heart rate – >100 atau <40 kali/min merupakan tanda signifikan
  2. monitoring tekanan darah – jika tekanan darah sistolik <>
  3. periksa waktu pengisian kapiler
  4. pasang infuse dengan menggunakan kanul yang besar
  5. berikan cairan koloid – gelofusin atau haemaccel
  6. pasang kateter
  7. periksa lab untuk darah lengkap, urine, elektrolit
  8. lakukan kultur darah
  9. lakukan pemeriksaan apusan tegorokan untuk kultur dan sensitifitas
  10. catat temperature – mungkin pyreksia atau <<36 oC

Disability

  1. kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU
  2. obserasi tanda neurologis fokal

Exposure

  1. kaji adanya ptechie

Tanda ancaman terhadap kehidupan

Jika pasien menunjukan adanya tana kegawatan menunjukan pasien harus dibawa secepatnya ke ICU adapun tandanya sebagai berikut:

  1. kemerahan semakin banyak
  2. CRT > 4 detik
  3. Oliguria
  4. Pernapasan <8> 30 per menit
  5. Heart rate <40>140 kali per menit
  6. Asidosis dengan pH <>
  7. WBC <4
  8. Adanya tanda penurunan kesadaran – GCS <> 2
  9. Neurologi fokal
  10. Kejang
  11. Bradikardia dan hypertensi
  12. Papiloedema

Investigasi dan managemen lanjut

Jika sudah melakukan tindakan tersebut maka selanjutnya dilakukan tindakan mendis lebih lanjut berupa:

  1. pertimbangkan lumbar pungsi
  2. CT Scan, bukan merupakan prioritas
  3. Jika pasien septicemia, bukan merupakan indikasi untuk dilakukan LP
  4. Jika mengalami meningitis pertimbangkan LP
  5. Berikan 2 g cefotaxim atau ceftriaxon – jika LP tidak dilakukan
  6. Selanjutnya berikan antibiotic sesuai dengan hasil kultur
  7. Pertimbangkan pemberian dexametason 0,15mg/kg 4 kali sehari